Kembang Lawang

Kembang lawang atau star anise atau pekak adalah sejenis rempah-rempahan. Walaupun disebutnya kembang, tapi sebenarnya ia adalah buah. Namun karena bentuknya yang cantik dan mirip kembang, jadi disebutlah kembang.

Pernah baca di blog orang kalau penggunaan kembang lawang dalam pembuatan rendang akan menghasilkan rendang yang nendang banget. So, ini aku catat pakai pena merah. Biar ingat terus. Kirain, hanya sedikit orang yang tahu tentang ini. Eh ternyata, mamaku aja tahu. Entah tahu dari mana, yang pasti mama tidak bisa internetan. Sebut saja mamaku gaptek, tapi kalau soal masakan, seribu jempol deh -lebay. Biarin, mamaku sendiri ini.

Waktu kemarin berkesempatan pulang ke rumah, tak sengaja aku menemukan kembang lawang. Saat aku bertanya untuk apa? Kata mama untuk masak rendang dan gulai. Biar rasanya lebih enak. Kata mama rasanya asem. Terus, harganya mahal dan susah nemunya alias jarang yang jual. Lalu, sama mama, karena rasanya yang asam tuh kembang dimasukin ke jenis asem-aseman, anggap aja saudaranya asem jawa.

Kalau secara klasifikasi ilmiah, kembang lawang dan asam jawa ketemunya di kelas magnoliopsida -sodaraan jauuuuuuh banget. Yah, tapi karena disini kita tidak berbicara soal kekerabatan, jadi kita tinggalkan saja pokok bahasan ini.

Mamaku itu jago masak, koki alami. Tanpa kursus, alias otodidak. Dan yang pasti kalau masak tidak ada resep patennya. Semua pakai ilmu kirologi. Mangkanya, kalau lagi ada hajatan atau acara masak besar dan mama jadi ketua kokinya. Begitu mama hilang, pada bingung deh takaran-takarannya. Soalnya tidak ada standar bakunya. Bahan bakunya adanya seberapa, ya segitulah yang dipakai, bumbunya menyesuaikan.

Kalau aku tanya-tanya soal resep, mama pasti bingung berapa takarannya. Dan rasanya ini menurun ke aku. Aku kalau masak, ya tergantung yang ada apa. Biasanya tidak pernah mengulang masakan yang sama dua kali. Pasti ada aja yang diganti. Terus, kalau mau dituliskan resepnya, pasti bingung takarannya. Benar-benar ilmu kirologi.

Jangan dikira masakanku enak ya. Masakanku itu benar-benar sesuka hati. Bahan-bahan yang digunakan pastilah bahan makanan yang aku suka. Bumbunya mengira-ngira, tidak jarang dijadikan bahan percobaan. Waktu kecil aku pernah menggoreng jambu air. Penasaran rasanya buah kalau digoreng itu seperti apa. Hasilnya, jambu air penuh minyak. Tidak jarang -bahkan sering- masakan yang dibuat rasanya amburadul atau mencekik lidah. Tapi disitulah serunya. Kalau masih belajar, pasti ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Kalau sudah mahir pun, tetap ada dua kemungkinan, berhasil atau gagal. Lalu apa bedanya yang pemula dan yang mahir? Jam terbang. Semakin tinggi jam terbangnya, semakin tinggi tingkat keberhasilannya. Jadi, buat kita-kita yang lagi belajar masak dan sering gagal, tetap semangat. lama-lama juga jago kok. Dijamin.

Keep cooking! ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s