Gue Kenalan dengan Trismus

Apa itu trismus?

Trismus adalah keterbatasan dari pergerakkan rahang, yang berhubungan dengan gangguan pada temporomandibular joint dan otot mastikasi. (sumber)

Bahasa sederhananya adalah kesulitan membuka mulut. Dampak dari trismus ini adalah kesulitan berbicara karena mulut tidak bisa terbuka lebar dan kesulitan menggerakkan lidah serta kesulitan mengunyah dan menelan. Tentu saja terasa nyeri juga. Atiiiiiiiiiiit deeeeh😥

Bagaimana cara mengetahui trismus secara sederhana?

Bila bukaan mulut kurang dari 20 mm sudah dapat dikatagorikan sebagai Trismus. (sumber)

FYI: 20 mm = 2 cm. Jari telunjuk + tengahku = 2,5 cm.

Kalau secara normal, 3 jari bisa masuk ke mulut secara vertikal. Kalau lagi trismus, bisa kebuka 1 jari aja udah sukuuuuuuur deh.

Nah, awal kisah perkenalanku dengan trismus diawali pada Hari Selasa. Terasa sakit di geraham bawah kanan. “Ah.. Pasti tumbuh gigi, biasa ini mah”, pikirku santai. Besoknya, sakitnya makin menjadi. Terasa seperti ada yang menusuk-nusuk telinga dengan jarum dari dalam, sulit berbicara dan sakit jika menelan. “Wah, wah, tumben sakitnya ampe kayak gini. Paling-paling ini puncaknya. Besok juga sembuh”, pikirku optimis. Meskipun sulit menelan, tetap harus makan donk.. Berhubung mulutnya tidak bisa dibuka asupan gizi hari ini hanya dipenuhi dengan susu 500 ml, telur rebus setengah matang 1 butir, n bubur kacang ijo yang cuma diminum airnya.

Hari  Kamis, rasa sakitnya semakin bertambah. Tapi, mungkin karena sudah terbiasa dengan sakitnya dan belajar beradaptasi plus pikiran positif, sudah bisa makan lebih banyak daripada kemarin. Sebenarnya sih karena takut masuk angin dan kekurangan gizi. Bisa-bisa malah penyakitnya merambat ke yang lain-lain. Masak iya gue entar di rawat di rumah sakit karena tumbuh gigi?

Hari Jumat, beuuuuh nyerinya gak nahan. Saking sakitnya, sampe takut saraf yang ditelinga putus. Tapi,

Kucoba tuk bertahan dalam sakit ini

Tak bisakah sejenak kau pergi jauh

~Bertahan by Five Minutes

Selama 4 hari ini, terhitung sejak Selasa sampai Jumat, sudah sempat nanya sana-sini perihal obat meringankan sakit ini dan inilah daftar obat-obatnya: ponstan, paracetamol, dan asam mefenamat. Nah, kalau gue udah sampe nyari obat, berarti emang udah gak nahan ama sakitnya. Yah, meskipun tetap gak minum obat juga sih.. Cuma sekedar buat info aja, kali aja entar butuh.

Dirasa-rasa ini bukan tumbuh gigi biasa dan takutnya ada apa-apa, akhirnya pada Sabtu siang pergilah ke dokter gigi. Setelah 1,5 jam mengantri disertai rasa nyeri dan lapar, tiba juga giliran untuk menemui sang dokter gigi langganan.

Dan akhirnya dimarahi, ” Ini trismus. Kayaknya infeksi” Dan gue dengarnya trusmus.

“Kenapa baru ke dokter setelah 4 hari?”

Gue diem.

“Nanti kamu bisa dehidrasi.”

“Udah dok”, dalam hati.

“Kekurangan asupan gizi.”

“Itu juga udah dok”, masih dalam hati.

“Untung kelenjarnya belum bengkak.” Gue melotot.

“Udah minum obat apa?”

Gue geleng-geleng. Dokternya nulis resep obat.

“Dikasih obat ya dok?”

“Iya”

“Saya gak bisa minum obat dok. Sirup aja gimana?” Gue memang kesulitan dalam menelan obat.

“Kalau sirup cuma 20o mg. Ini harus 500 mg. Obat aja ya, gak papa kok. Atau mau puyer?” dokternya ngebujuk.

“Obat aja dok, jangan puyer”, jawabku cepat.

“Tapi harus dihabiskan ya. Ini satu dosis. Jangan sampai bolong, nanti ngulang lagi dari awal.” Gue cuma bisa mengangguk pasrah, soalnya sakit kalau nelan ludah.

“Kemarin udah minum obat apa?” Gue geleng-geleng lagi.

Kayaknya dokternya agak gak yakin kalau gue belum minum obat apa pun. Secara gitu ya, mulutnya aja sulit dibuka, buat nelan sakit, gimana bisa minum obat. Lagian gue emang gak ramah kok dengan obat. Kalau bukan karena terpaksa, ogah banget nelen pil-pil dan tablet itu.

Obat dari dokter gigi terdiri dari antibiotik 500 mg karena gue infeksi, dexamethasone 0,5 mg sebagai anti radang, dan asam mefenamat 500 mg sebagai anti nyeri. Semuanya diminum 3 kali sehari dan untuk antibiotik dianjurkan 8 jam sekali. Obatnya gede-gede kecuali si anti radang. Selain obat, sang dokter pun memberikan surat pengantar rontgen gigi. Setelah obatnya habis gue harus rontgen gigi supaya tahu penyebab trismusnya.

Setelah minum obat, rasa nyerinya berkurang dan gue akhirnya bisa bilang, “Aaaaaaa”. Kau akan tahu betapa bersyukurnya bisa mengucapkan vokal A meskipun dengan mulut terbuka hanya selebar satu jari setelah terkena trismus.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Terkadang kita memang perlu mengenal sakit agar dapat lebih mensyukuri nikmat sehat.
Dan nikmat sehat paling indah buat gue adalah tidak minum obat.
Terima kasih buat trismus, karena gue jadi belajar bahwa,

Bisa mengucapkan “a” adalah salah satu nikmat terbaik yang bisa dimiliki

4 thoughts on “Gue Kenalan dengan Trismus

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s