Kemang yang Mulai Langka

Ketika mendengar kata Kemang, maka yang terlintas adalah nama sebuah daerah di Jakarta. Nah, ternyata ada lho buah kemang ini. Apakah sahabat tahu bagaimana bentuknya? Berdasarkan referensi googling, kemang itu seperti mangga. Wah, mangga yang langka, penasaran. Penasaran. Katanya di Bogor ada. Berharap, berharap bisa menemukannya.

Dan, eng ing eng *drumroll* saya merasa menemukan buah ini di salah satu penjual buah di Bara -nama gaul untuk Babakan Raya- pada januari 2012. Setelah nanya-nanya penjualnya, ternyata benar, saya tidak salah menduga, itu adalah buah kemang yang mulai langka. Jarang yang jual. Karena bapak-bapak yang jual agak susah di ajak berkomunikasi, saya tidak bertanya lebih jauh. Lagian saya sudah tidak sabar ingin mengetahui seperti apa sih rasa buah yang satu ini. Kata orang rasanya asam. Hmm.. Nyummi.

Sebab ini adalah pertama kalinya saya mencoba buah ini, jadi agak ragu-ragu juga apakah rasanya cocok di lidah. Apalagi melihat ukurannya yang besar, sayang kan kalau setelah di kupas tidak di makan. Jadi saya mengajak adik saya untuk ikut mencicipinya. Buah yang menurut saya lebih mirip ubi ini -lihat saja warna kulitnya- memiliki wangi yang sangat tajam. Wangi banget dah.

Daging buahnya ternyata berwarna putih kekuningan, putih gading mungkin ya.. Jadi selain dari ukurannya, saya tidak mengerti apa yang membuat buah ini disebut mirip mangga. Warna kulitnya mirip ubi, warna daging buahnya malah lebih mendekati bengkoang -putih- tidak ada wangi mangganya sama sekali, tekstrur buahnya mungkin yang agak mirip walau pun tetap aja beda, bijinya pun tak serupa -berwarna kecoklatan.

Ketika mengupasnya, wanginya telah menyebar ke mana-mana. Dan saat memakannya, rasanya jauh dari mangga. Trust me. Kalau ditanya rasanya mirip buah apa? Saya tentu tidak bisa menjawab. Seperti ketika saya bertanya “Rasa anggur seperti apa?” tentu Anda pun akan bingung menjawabnya. Kecuali kalau ditanya rasa rujak seperti apa, saya tentu bisa menggambarkannya, karena ia merupakan perpaduan dari banyak rasa -berbagai macam buah-buahan dan bumbu sambal.

Jadi, menurut saya, dari pada dibilang mirip mangga justru “kesannya” ia lebih mirip durian. Bukan rasanya, tapi kesannya. Karena begitu menggigit kemang dan mengunyahnya, langsung akan terasa kemang yang sangat kuat. Seperti ketika makan durian, maka “sang durian” akan langsung memenuhi rongga-rongga anda.

Menurut saya, rasa kemang yang saya makan ini lebih ke pahit dari pada asam. Tapi menurut adik saya, rasanya asam dan hanya sedikit pahit. Karena rasa sang buah agak tidak cocok di lidah saya -dari sekian buah yang mulai langka dan pernah saya cicipi, baru ini yang tidak cocok- maka saya membuat sambal cabe hijau + garam. Sehingga rasa pahitnya kalah dengan rasa pedas.

Yang masih membuat saya penasaran, saya tidak tahu apakah kemang ini belum matang, agak matang, matang, atau terlalu matang. Makanya jangan terlalu percaya pada rasa yang saya gambarkan karena saya juga masih belum tahu bagaimana cara membedakan kemang yang sudah matang dan yang belum. Apakah kulitnya berwarna hijau seperti buah kebanyakan saat masih muda? atau hanya ukurannya yang dulu kecil dan semakin matang maka akan semakin besar? Entahlah. Seperti apa ya pohonnya?

Semoga tahun depan bisa berjumpa lagi dengan buah ini. Saat itu, saya akan menanam bijinya.

4 thoughts on “Kemang yang Mulai Langka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s