Kopi Merah Putih

Di postingan sebelumnya, saya berjanji akan membahas mengenai buku “Kopi Merah Putih ~ obrolan pahit manis Indonesia”. Ok, Ceck it out.

Kenapa judulnya Kopi Merah Putih?

Minum kopi, atau ngopi, mungkin satu dari sedikit kata kerja yang bisa mewakili banyak aktivitas: dari negosiasi bisnis, tukar pikiran dalam pekerjaan, reuni dengan kawan lama, sampai bincang-bincang informal di ujung gang. Semua bisa dilakukan dengan alasan ngopi.

Kalau boleh menganalogikan aktivitas minum kopi dengan kehidupan kita sebagai bangsa, kita ~kaya atau miskin, di kota atau di desa~ menghirup pahit dan manisnya kopi dari “cangkir” yang sama. “Cangkir” itu adalah Indonesia. Dan obrolan kita di kala ngopi pun banyak mencerminkan pandangan kita terhadap cangkir bangsa ini: Bagus atau jelek? Setengah penuh atau setengah kosong? Bersih atau kotor?

Itu adalah secuplik prakata dari buku Kopi Merah Putih. Buku ini ditulis oleh Indonesia Anonymus (IA). Kenapa disebut demikian?

Istilah tersebut kami rasa pas karena tulisan-tulisan kami memang “tidak jelas” siapa penulisnya. Sebagian besar tulisan yang ada adalah rangkuman obrolan di lift, di mobil, di saat rehat kopi, bahkan di toilet.

Pada awalnya, IA adalah nama yang kami berikan untuk blog berbahasa Inggris yang kami buka pada tahun 2005.

Nah, untuk sahabat-sahabat saya yang ingin tahu lebih banyak tentang Indonesia Anonymus ini, silakan berkunjung ke http://www.indonesia-anonymus.com

Itu sedikit perkenalan tentang Buku Kopi Merah Putih. Berhubung, ini pertama kalinya saya meriview buku nonfiksi, rada bingung juga harus mulai dari mana. Apalagi, saking banyaknya yang ingin dibagi, ingin ditulis, entah bagaimana mesti memilah-milahnya.

Oke, pertama-tama, saya ingin berbagi mengenai keunggulan sekaligus keunikan buku ini. Layaknya sebuah karya ilmiah yang mengharuskan kita menggunakan referensi terpercaya, buku ini pun menyajikan sumber-sumber data yang menjadi acuannya. Namun karena penulis bukan mahasiswa yang sedang membuat makalah, tentu rujukannya bukanlah jurnal, skripsi, ataupun buku-buku ilmiah, sebagian besar menggunakan sumber informasi dari koran dan internet.

Selain itu, buku ini pun menyajikan ilustrasi-ilustrasi gambar yang nyambung dengan bahasannya dan cukup menggelitik. Ini contohnya.

Yang tidak kalah menarik adalah hal-hal yang dibahas di buku ini adalah  hal-hal ringan, hal-hal kecil yang kerap kali terjadi dalam keseharian kita, namun seringkali terlewati dan luput dari perhatian, atau memang kita sudah malas tahu. Judul bab-babnya antara lain: kita dan listrik; kita, uang, dan pendidikan; kita dan insinyur; Kita, jas, dan dasi; kita dan suap; kita dan bajaj; dan masih banyak lagi. Yang saya suka dari buku ini adalah ia tidak hanya memberikan kritik tapi juga SOLUSI *angkat topi*. Jadi, saya sangat merekomendasikan teman-teman untuk membaca buku ini.

Nah, sekarang saya akan me-riview salah satu bab yaitu kita dan suap. Alkisah, ada seorang ibu yang kaget melihat 2 anaknya yang sedang bermain kejar-kejaran antara polisi dan penjahat.

Kakak: Hey, adik kan sudah tertangkap. Mobilnya nggak boleh jalan lagi donk!

Adik: Biarin aja. Kakak kan cuma polisi. Adik bayar aja. Beres kan?

Mendengar hal itu, sang ibu langsung terlonjak dari kursi, bungsunya yang belum genap 6 tahun sudah mengenal suap-menyuap.

Ibu: Adik! Adik tidak boleh ngomong begitu! Itu tidak boleh. Siapa yang mengajari Adik untuk bicara seperti begittu?

Adik: Mama sendiri yang ngajarin

Anda tentu sudah bisa menebak seperti apa reaksi sang ibu. Nah, ternyata sehari sebelumnya seluruh keluarga pergi menggunakan mobil mengunjungi rumah saudara. Namun karena sang ayah tidak mengenal daerah sekitar situ, ia salah belok dan dihentikan polisi. Sang polisi meminta sang ayah keluar dari mobil dan memberikan penawaran: bayar di tempat atau ditilang dan menghadiri sidang. Karena tidak suka dengan sikap arogansi petugas polisi, sang ayah membiarkan surat izinnya ditahan.

Ibu: Papa gimana, sih? Setiap hari sudah begitu sibuk. Enggak ada waktu buat anak-anak. Kok sekarang pilih untuk antre di sidang hanya karena salah belok? Buang-buang waktu aja deh! Kenapa enggak bayar aja, sih? Kan polisinya sendiri sudah minta?

Sambil mengomel, sang ibu merebut surat tilang dari tangan suaminya dan turun untuk membayar petugas polisi.

Ibu: Lain kali yang praktis-praktis aja lah, Pa.

Tanpa disadari, dari bangku belakang kedua anaknya menyaksikan, mendengarkan, mengamati. Dan menyerap semuanya.

Kita tidak bisa hanya menyalahkan para pejabat di atas sana yang melakukan praktek “yang praktis-praktis saja” karena kita yang ada di bawah pun melakukan hal yang sama. Lalu apa bedanya kita dan mereka? hanya beda nominal  ╮(╯_╰)╭

2 thoughts on “Kopi Merah Putih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s