Suka Duka Terperangkap dalam Tubuh Anak SMP

Setiap orang tentu mendambakan menjadi muda lebih lama. Untuk bisa tampil lebih muda atau untuk mempertahankan kemudaan, banyak pula yang tak segan-segan mengeluarkan banyak uang. Bagaimana denganku?

Pada suatu malam, saat dunia telah terlelap dalam mimpi indah, seorang peri jelita datang dan dengan kemampuan magisnya, dia mengucapkan mantra, “Kau akan terlihat muda lebih lama”. Kemudian bersama kerlap-kerlip keemasan, ia pun menghilang. (Ini hanya fiktif belaka).

Awalnya, aku bingung kenapa kebanyakan orang mengira aku adalah anak SMP, dan aku merasa cukup tersanjung saat ada yang mengira diriku sebagai murid SMA. Setelah sedikit mengintip memori masa lalu, aku pun mengerti. Tinggi badanku hanya bertambah beberapa centimeter sejak aku SMP, dan berat badanku tidak berubah. Tidak bertambah ataupun berkurang. Konstan. So, kalau ukuran tubuhku ini tidak berbeda jauh dari saat aku masih memakai seragam putih biru = wajar saja orang mengira aku murid SMP.

Ukuran tubuh yang mungil dan memiliki tampak wajah beberapa tahun lebih muda dari usia sebenarnya membuat aku terlihat seperti anak ABG. Bukannya mau sombong atau ajang mengeluh, just wanna share.

Kita awali dengan yang rada-rada gak enak dulu ya.

*Diremehkan

Aku pernah jalan bareng bersama seorang teman di sebuah mall dan saat itu sedang ada diskon. Diskon itu selalu terlihat menggoda untuk kaum hawa. So, kami putuskan untuk mampir dan membeli produk yang sedang dijajakan. Temanku itu dilayani dengan sangat baik, tapi aku dicuekin. Aku mencoba bertanya mengenai produk itu pada SPG-nya, tapi tidak dijawab dan diabaikan. Ok, mungkin ia tidak mendengar atau pikirannya sedang di tempat lain. Lalu kuperlihatkan ekspresi tertarik dan ingin membeli produk tersebut dan bertanya lagi, dan lagi. Tapi tetap saja perlakuan yang aku terima sama. Ia sibuk merayu temanku tapi tak mengacuhkanku (Ket: teman ku ini memang cantik, tapi SPG ini perempuan). Karena jengkel, aku jadi tak tertarik lagi. Yah, mungkin aku terlihat seperti anak di bawah umur, tapi posisiku saat itu adalah konsumen, pelanggan. Dan setiap pelanggan bukankah harusnya dilayani dengan sebaik-baiknya?

Pelajaran yang gue ambil adalah: Jangan meremehkan orang lain, apalagi jika memandangnya dari fisik. Karena diremehkan itu tidaklah menyenangkan.

*Diragukan

Aku telah terbiasa jika dianggap masih anak-anak, atau diledekin (konteks: becanda) mengenai fisik. Perlakuan-perlakuan yang diberikan orang lain yang tidak mengenalku seringkali adalah perlakuan untuk remaja bukan wanita dewasa. Tak mengapa, bahkan menjadi lucu. Yang menyesakkan adalah saat aku dianggap anak kecil dalam bidang keprofesian. Hal ini aku alami saat sedang PKL di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Salah satu tugas harian yang harus dilakukan adalah SGA (Subject Global Assessment). Saat menemui pasien, seringkali mereka meragukanku, dengan tatapan yang –ah, aku bingung menggambarkannya–. Hemm, coba Anda bayangkan Anda adalah pasien di sebuah Rumah Sakit, Anda menunggu dokter dan yang datang malahan anak SMP yang bertanya mengenai kesehatan Anda. Yupz, tatapan dan ekspresi seperti itulah yang aku terima (PS: aku bukan calon dokter. Ini hanya pengandaian). Jadi agak susah untuk memulai komunikasi, karena mereka mengira aku bukanlah anak PKL (mahasiswa) tapi anak SMA. Jadi mereka ragu-ragu menjawab pertanyannku. Dan karena pengalaman seperti ini tidak hanya aku terima sekali atau dua kali, hal ini sukses membuatku menghela napas.

Aku tidak terlalu ingat duka-duka yang lainnya. Mungkin akan kutambahkan kalau nanti ingat. Selanjutnya kita sambung ke asyiknya dikira Anak SMP.

*Awet Muda

Kalau ada yang bertanya, “Tapi kamu tidak kelihatan sudah berumur 20an. Kelihatan masih muda. Apa rahasianya?” Nah, saat inilah aku bisa mensugesti orang lain, “Minum air putih yang banyak, makan buah dan sayur setiap hari”. Aku memang menerapkan pola konsumsi seperti itu dalam keseharian, tapi aku tahu bukan itu yang membuat aku kelihatan seperti anak SMP. Ini gen.

*Dipanggil Sayang

Biasanya, orang sudah jarang menyebut sapaan sayang kepada wanita yang telah dewasa. Kata sayang biasanya digunakan untuk melembutkan percakapan pada anak-anak. Tapi aku masih sering menerimanya. Mereka (perempuan) yang tidak tahu kalau dari segi umur aku telah masuk kategori wanita dewasa, akan dengan sangat lembut, ramah, penuh senyum, dan plus embel-embel sayang kalau berbicara padaku. Seperti, “Tolong buka pintunya, sayang” “Terima kasih, sayang” “Mau jus apa, sayang?” dan sebagainya. Perlakuan yang secara random terjadi itu cukup untuk membuatku cerah seharian.

*Dilindungi

Biasanya, orang-orang disekitarku itu jadi merasa lebih tua –alih-alih menyebut dewasa– dariku, jadi secara bawah sadar mereka ingin melindungi. Memiliki orang-orang yang bersedia melindungi dengan sukarela itu suatu anugerah kan? Selain itu, kadang kalau aku sedang naik angkutan umum seperti bus atau kereta yang penuh sesak, ada orang yang bersedia membagi bangku denganku. Perbandingan kejadiannya mungkin 1:1 (ket: Aku jarang menggunakan kedua angkutan umum itu. Mungkin itu sebabnya perbandingannya tidak berbeda jauh).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s