Tolong-menolong

Di sebuah padang rumput yang hijau, hiduplah seekor anak kelinci putih yang lucu bernama Rintin. setiap hari ia rajin ke sekolah. Di sekolah Rintin belajar dan bermain bersama anak kelinci yang lainnya. Rubo kelinci bermata merah, Chacha yang kecil dengan bulu coklat yang lembut, dan Koko bercorak hitam.

“Pagi anak-anak”, sapa Pak guru kelinci dengan ramah.

“Pagi pak Guru”, jawab anak-anak kelinci serempak.

“Siapa yang sudah siap belajar hari ini?”

“Saya”, anak-anak kelinci menjawab dengan penuh semangat.

“Hari ini kita akan belajar di luar ruangan. Gambarlah apa pun yang kalian suka. Kalian bisa menggambar apa yang kalian lihat atau yang kalian imajinasikanĀ  Kembali ke kelas saat jam istirahat untuk mengumpulkan hasil karya kalian. Setuju?” Pak guru menatap murid-muridnya dengan senyum mengembang.

“Setujuuuuuuuuu”, jawab anak-anak kelinci serempak.

Satu per satu anak-anak kelinci keluar ruangan secara tertib dengan membawa tas masing-masing.

Rintin tidak sabar untuk mulai menggambar. Kemarin Ibu membelikannya sekotak pensil warna baru. Warna-warnanya begitu terang dan terlihat indah. Rintin memilih duduk di bawah pohon dekat kolam dan mulai mengeluarkan buku gambar dan pensil warna kebanggaannya.

“Bagus sekali pensil warnamu, Rintin”, kata Rubo yang sedang lewat di dekat Rintin.

Rintin tersenyum bangga, “Ibu membelikannya kemarin di kota. Bagus, kan?”

“Iya, bagus. Boleh aku memegangnya?” tanya Rubo.

“Tidak boleh”, sergah Rintin cepat “Nanti rusak. Ini kan baru. Mahal lagi”

“Oh… iya”, Rubo menjadi sedih dan pergi meninggalkaan Rintin.

Rintin mulai asyik menggambar bunga-bunga di sekitar kolam.

“Boleh aku duduk di sini?”, tanya Chacha kepada Rintin.

“Chacha mau menggambar kolam juga? Duduk saja”, Rintin mempersilakan.

Chacha pun mulai asyik menggambar ikan yang berenang dengan lincah di kolam. Air kolam sangat jernih, sehingga ikan warna-warni itu terlihat jelas.

“Rintin, kamu bawa pensil warna?”, tanya Chacha.

“Bawa”, jawab Rintin berseri-seri sambil memperlihatkan pensil warna barunya.

“Bagus sekali pensil warnamu”, Chacha memuji pensil warna milik Rintin. Rintin tersenyum bangga.

“Boleh Chacha pinjam warna merah dan oranye? Pensil warna Chacha ketinggalan”, pinta Chacha.

“Tidak boleh. nanti pensil warna Rintin rusak. Ini kan baru”, jawab Rintin.

“Chacha tidak bermaksud untuk merusaknya. Chacha cuma ingin mewarnai ikan Chacha saja”, kata Chacha sedih. Rintin terdiam. Ia urung meminjamkan pensil warnanya.

“Chacha pinjam punya Koko saja”. chacha pun berjalan ke depan kelas. Koko sedang menggambar taman kecil di depan kelas.

Teng.. Teng… Bel jam istirahat berbunyi.

Anak-anak kelinci kembali ke kelas. Setelah mengumpulkan buku gambar masing-masing pada Pak Guru, anak-anak kelinci membuka bekal yang dibawa dari rumah. Rintin membuka tasnya, namun tak menemukan kotak bekalnya. Sepertinya tadi pagi ia lupa membawanya karena hanya memikirkan pensil warna barunya.

“Wah.. kelihatannya enak Cha”, kata Koko melihat puding wortel yang dibawa Chacha.

Chacha tersenyum. “Koko mau?” Koko mengangguk dan Chacha memberikan sepotong puding pada Koko.

“Rubo juga mau”, kata Rubo pada Chacha.

“Iya. Masih ada kok” Chacha pun memberikan sepotong puding pada Rubo.

“Rintin, kamu tidak bawa bekal ya?” tanya pak guru.

“Iya, Pak”, jawab Rintin seadanya.

“Coba minta ke temanmu yang membawa bekal lebih”, usul pak Guru. Rintin hanya terdiam. Ia tadi telah berlaku kasar pada teman-temannya.

“Anak-anak, Rintin tidak membawa bekal. Ada yang bersedia berbagi bekalnya?” tanya pak guru pada murid-muridnya. Tidak ada yang menjawab.

“Ada apa ini?” tanya Pak guru lagi.

Rintin menceritakan kejadian pagi tadi.

“Rintin, jika tidak ingin meminjamkan pensil warna pada teman-teman Rintin, tidak perlu membawa pensil warna yang indah itu ke sekolah. Karena itu akan membuat teman-temanmu iri. Apalagi Rintin tidak bersedia meminjamkannya”

“Iya, Pak Guru” rintin menyesali perbuatannya.

“Menolong teman adalah salah satu perbuatan mulia. Jika kita dengan senang hati menolong orang, maka orang lain pun akan dengan senang hati menolong kita. Hidup itu harus saling tolong-menolong”

Anak-anak kelinci mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Dan saat kita menyakiti perasaan orang lain, apa yang harus kita lakukan?” tanya Pak Guru.

Rintin meminta maaf pada Rubo dan Chacha. Rubo dan Chacha memaafkan Rintin. Chacha pun berbagi Puding dengan Rintin.

One thought on “Tolong-menolong

  1. Pingback: Hati – Hati Menolong Orang | humorisiora.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s