Cerita hari ini: Gue dipanggil “Bu”

Sore ini aku dan temanku berpetualang ke bumi Galuga. Cukup jauh dari tanah IPB tempatku biasa menghabiskan sebagian besar waktuku. Misinya, aku dan temanku ini ingin mencari sebuah SD yang belum diketahui namanya, bagaimana bentuknya, dan di mana lokasinya.

Dalam perjalanan teman gue itu sudah kepikiran macam-macam, kok gak sampai-sampai, apa kelewatan, jangan-jangan nyasar dan sebagainya. Gue mah nyantai aja, kalau nyasar ya tinggal balik lagi. Karena kesasar adalah nama tengahku. Hahahahahaha.

Singkat cerita, kami telah menyusuri sedikit Galuga. Tidak tahu pasti, karena ini pertama kalinya kami berdua ke sana. Asal jalan aja pokoknya. Hahahahaha. Tanpa kompas atau penunjuk arah. Tanpa peta atau pemandu. Di antar abang ojek tapi. Hihihihi.

“Mang, di sini banyak ojek? Nanti pulangnya naik ojek lagi kan?” tanyaku

“Iya, neng. Banyak ojek”

Oh.. lega hatiku, karena perjalanan ini begitu panjang dan sepi. Dengan jalan yang belum di aspal alias berbatu-batu. Dan di samping kanan kiri ilalang tumbuh cukup tinggi. Sesekali diselingi oleh tumpukan-tumpukan sampah.  Orang-orang yang kulihat berwajah tidak ramah.

Setelah membayar abang ojek dan membiarkannya pergi, aku dan temanku melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Melangkah ke kanan dan ke kiri (emang dansa). Bertanya ke sana dan ke sini. Kami menyerah. Hahahahaha.  Cuma satu SD yang kami dapati, yaitu SD tempat abang ojek menurunkan kami. Lalu akhirnya kami memutuskan untuk pulang, sebab hari telah sore dan langit mendung memperingatkan kami bahwa sebentar lagi guyuran air akan membasuh bumi.

Tapi, “DOEEEEENGGGGG” gak ada tukang ojek. Satu buah daun jatuh, ditiup angin. Krik krik krik. Sepi.

Dan kami bertanya pada seorang nenek-nenek.

“Bu, biasanya tukang ojek di mana ya?”

“Di depan warung itu biasanya ada Neng” kata sang nenek sambil menunjuk sebuah warung.

“Nggak ada, Bu. Ada pangkalan ojek lain gak Bu di dekat sini”

“Ada Neng.” Pelangi muncul di hatiku. Ada harapan. Gak harus pulang jalan kaki. “Di depan sana Neng. Di Galuga”

JEDEEEEEEEEEER!! Itu mah tempat kami naik ojek tadi. Hahahahahaha.

Gue jadi ingat percakapan gue sama si abang tukang ojek. Batinku “Iya, di sini emang banyak tukang ojek. Tapi di pangkalan semua.”

Setelah berterima kasih, kami pun melanjutkan perjalanan. Alamat pulang jalan kaki nih. Gue gak pandai mengkonversi jarak dalam satuan entah itu Km atau m, yang pasti ini tempat benar-benar jauh dari pinggir jalan raya. Kalau jalan kaki 2 jam kali baru nyampe. Bagi yang pandai konversi-konversi, silakan dikonversi dari waktu ke jarak. Hihihihihihi.

Saat harapan itu hampir pias, datanglah orang bermotor menawari “Ojek?”

Gue yakin nih mas-mas bukan tukang ojek. Terserahlah, yang penting kami bisa pulang tanpa jalan kaki.

“Tapi 2 mas” kata kami serempak.

Dan mas-mas itu pun memanggil kawannya.

Cihuuuuuuy…

Sepanjang perjalanan aku dan mas-mas bukan ojek ini mengobrol. Percakapan yang paling berkesan adalah “habis ngajar ya, Bu?”

Whatssss… gak salah dengar nih telingaku? Gue dipanggil Ibu. Habis ngajar pula. Ni mas-mas ngelantur atau apa sih? Jangan-jangan gue yang salah dengar.

Soalnya, kalau dirunut, kejadian yang sewajarnya terjadi adalah seperti ini,

kalau orang lain (anggap saja teman-temanku) ditanya, “Bisa lihat KTP-nya mbak?” maka untuk gue berubah jadi, “Sudah punya KTP mbak?” Waktu gue belanja, maka yang ditawarkan adalah “Ini lagi ngetrend lho Mbak. Lucu-lucu lagi. Ada gambar Mickey Mouse-nya. Donal Bebek, n blablablabla” sampe teman gue terkekeh-kekeh. Dan waktu gue naik kereta dari Jakarta di jam orang pulang kerja, sumpah padat banget dan desak-desakan. Ada seorang Ibu yang berkata “ Kasian, anak kecil kejepit” dan diikuti oleh beberapa penumpang yang lain “Iya, kasian” dan ucapan-ucapan simpati sejenisnya. Gue pun jadi ikut simpati, gue kira ada ibu-ibu yang lagi gendong anak dan anaknya kejepit diantara sesak penumpang. Tahunya, saat turun teman gue ngakak karena anak kecil yang dimaksud adalah GUE. Gubrakk!

Tapi ternyata mas-mas ini memang ajaib. Saat kami telah diantarkan sampai tempat tujuan (pangkalan ojek), gue nanya, “Berapa mas?” dan dijawab “terserah IBU saja”

Ah… Aku dipanggil Ibu sekali lagi.

2 thoughts on “Cerita hari ini: Gue dipanggil “Bu”

  1. hehe.. mantabs cin, ternyata tuh abang2 bisa melihat sosok lain dirimu…
    mungkin bisa jadi bagian untuk lebih membenahi diri menghadapi dunia orang dewasa.hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s