Geliat Itu Bernama Impian

Terkadang aku merasa lelah
Menjalani hari yang kupilih sendiri
Terkadang aku ingin berlari
Menjauh dari segala kerutinan

Kepenatan memasung jiwaku
Mengantar lengah ke relung-relung yang terbuka
Mengendap dan membentuk gumpalan hitam
Sesak memasuki pori-pori sukma
Aku terkapar dalam jurang tak bergerak
Merelakan tubuh ini digerogoti lemah

Hingga mata ini menyadari sebuah geliat penuh energi
Mencoba keluar dari lubang kepasrahan
aku menyebutnya “impian”

Ku sentuh ia secara perlahan
Ia pun pecah
Menjadi ribuan butir-butir kilau cahaya harapan
Mengubah setiap keraguan menjadi kekuatan
Dan kini aku kembali berdiri
Dengan semangat baru menyongsong hari

Akan ada saat hari-hari yang kau jalani terasa berat. Dan mungkin terasa muak untuk menjalaninya. Tak mengapa kawan. Itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Kau hanya perlu berhenti sejenak. Merenung. Dan melihat kembali impian itu. Rasakan kembali geloranya. Maka kau akan dapat memenuhi setiap gerakan dengan energi. Semangat untuk terus maju pun akan mengalir.

Yups, impian itu selalu ada di sana. Kau hanya tinggal berjalan lurus ke arahnya, maka kau akan menggenggamnya. Ingat, kau selalu punya pilihan. Terus berjalan ke arahnya, berpaling darinya, atau berhenti dan hanya menatapnya. Yang mana pun itu, kau yang memutuskannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s