Entah Harus Kusebut Apa Negeriku

Tulisan ini kubuat dalam emosi jiwa yang meletup-letup bak gunung merapi yang tengah menggodok lahar dan siap memuntahkannya. Sakit hati ini tiap kali membaca berita yang terpampang di sana lagi-lagi tentang kenaasan negeri ini. Negeri yang dahulu dijuluki potongan surga yang jatuh ke bumi. Negeri yang kaya raya, makmur, subur, dan sentosa. Membuat semua orang terkagum-kagum bahkan berdecak iri. Tapi lihat seperti apa negeri ini sekarang? Aku hanya bisa tertawa. Tertawa mengejek. Degradasi terjadi di sana-sini. Di semua elemen!

Saat ini aku ingin menulis tentang dilema bahasa negeri ini dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Sejak dulu aku tahu negeri ini dihuni orang-orang yang gengsinya besar. Selalu ingin terlihat top, keren, paling oke di semua hal. Kita tilik satu-satu secara sepintas, kau pasti lebih sering mendengar orang dengan bangga mengatakan, “Sepatu ini gue beli di Singapura satu juta” tapi jarang kan ada yang dengan bangga mengatakan “Sepatu ini gue beli di Cibaduyut Rp 500000,00” padahal dua sepatu itu memiliki kualitas yang sama. Jika ada seseorang yang berkata “Saya adalah mahasiswa lulusan universitas XXX (universitas luar negeri yang entah seperti apa bentuknya)” dan yang seorang lagi berkata “Saya adalah mahasiswa lulusan IPB”, katakan padaku, mana yang terdengar “wah” ditelingamu. Ayolah, tidak usah berbohong, kau dan aku tahu jawabannya, universitas yang namanya kebarat-baratan itu pasti terkesan lebih luar biasa kan? Padahal belum tentu kualitasnya lebih baik dari pada universitas dalam negeri. Kau ingin mendengar contoh yang lain? Coba kita lihat yang ini “ Semalam gue habis dinner di La Tour d’Ebeya” bandingkan dengan “semalam akhirnya bisa makan malam dengan menu sate lalat di Madura”, dan masih banyak hal-hal seperti ini yang ada dan mengalir dalam kehidupan kita. Mengagung-agungkan semua yang berbau luar negeri secara berlebihan.

Aku jadi melantur. Kita malah membicarakan hal yang lain. Maklumi saja, aku sedang sakit jiwa. Kita kembali ke topik yang membuat hatiku mengepul saat ini. Ya, bahasa. Aku yakin kau akan merasa sangat bangga jika diberi predikat pandai berbahasa asing, sebut saja Bahasa Inggris.Tapi aku rasa tak ada rasa bangga terbersit dihatimu jika disebut kau pandai  berbahasa Indonesia.“Ah, itu kan bahasa gue. Jelas aja gue jago”. Padahal kalau kau tahu, Bahasa Indonesia itu jauh lebih sulit dari Bahasa Inggris. Dan aku rasa tak semua orang pandai berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sengaja ku cetak tebal agar kau dapat jelas melihatnya. Bahasa Indonesia yang baik dan benar, bukan bahasa preman pasar yang sedang mabuk.

“Sekarang ini jamannya globalisasi, jek. Kalo gak bisa Bahasa Inggris, mati aje lu

Ya, sekarang memang jamannya globalisasi, semua menjadi tanpa batas. Tentu saja kau harus mempelajari bahasa-bahasa asing itu untuk memperlancar komunikasi. Tapi tidak lantas meremehkan bahasa ibumu. Indonesia telah dipandang rendah oleh mata dunia. Lihat saja prestasi-prestasi yang diraihnya, surga koruptor, negara yang tidak bisa melindungi warganya (TKI), negara konsumtif, negara penghutang, dan lain-lain. Lalu, kau sebagai anak negeri juga merendahkan negeri ini. Katakan padaku, lalu sekarang siapa yang akan mengangkat derajat dan martabat negeri ini? Kau yang lahir dari rahim ibu pertiwi saja melecehkannya.

Perkembangan bahasa Indonesia dapat kita lihat melalui Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hal ini karena Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa adalah kamus ekabahasa resmi Bahasa Indonesia yang disusun oleh Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa dan diterbitkan oleh Balai Pustaka. Kamus ini menjadi acuan tertinggi bahasa Indonesia yang baku, karena kamus ini merupakan kamus bahasa Indonesia terlengkap dan yang paling akurat yang pernah diterbitkan oleh penerbit yang memiliki hak paten dari pemerintah Republik Indonesia (sumber). KBBI ini dapat menjadi salah satu bukti dokumentasi perkembangan bahasa di tanah air.

Sejarah Penerbitan

  • Edisi pertama: 1988. Edisi pertama adalah hasil pengembangan dari Kamus Bahasa Indonesia yang terbit pada tahun 1983. Kamus ini baru memuat 62.100 lema.
  • Edisi kedua: 1991. Edisi kedua adalah revisi dengan edisi pertama dan memuat 72 ribu lema.
  • Edisi ketiga: 2005. Edisi ketiga memuat 78 ribu lema.
  • Edisi keempat: 2008. Edisi keempat memuat lebih dari 90 ribu lema dan sublema.

Lihatlah, lihat angka-angka itu. Kau pasti dapat melihat bedanya kan? Betapa negeri ini mangalami pengkerdilan dalam bidang bahasa. Belum lagi istilah-istilah yang digunakan negeri ini. Lihat cuplikan dari sebuah artikel di harian nasional Kompas, 15 April 2011.

Hampir semua penulis artikel yang mendaku sebagai doktor pertanian melumuri naskahnya dengan ”CPO” ketika membahas kelapa sawit. Bayangkan, minyak sawit mentah yang tersua di kilang-kilang seantero dunia sebagian besar berpaspor Indonesia, tetapi di tangan sarjana pertanian kita selalu ditulis sebagai crude palm oil—digenapi dengan singkatan CPO—bukan minyak sawit mentah atau MSM. Crude palm oil bukanlah rangkaian kata pembentuk idiom. Tak sulit mengalihkan kata demi kata Inggris itu ke dalam kata demi kata Indonesia. Kamus Inggris-Indonesia John M Echols dan Hassan Shadily memadankan crude oil dengan minyak mentah, palm oil dengan minyak sawit.

Asal tahu saja, CPO tidak serta-merta crude palm oil. The Free Dictionary (FARLEX) mendaftarkan paling tidak 71 singkatan CPO yang dikenal setakat ini: Chief Petty Officer, certified pre-owned, compulsory purchase order, civilian personnel online, Central Police Office, cost per output, dan seterusnya. CPO bukan singkatan sakral yang tak boleh dialihkan ke bahasa lain.

Istilah corporate social responsibility mulai dikenal pada akhir 1960-an ketika perusahaan multinasional bertumbuh di negara-negara maju, tetapi baru menyerbu teks-teks berbahasa Indonesia sebagai ”CSR” sejak 2004. Di harian ini sang pemulanya adalah seorang ekonom pada artikelnya dalam edisi 21 Agustus 2004: ”Bagi bisnis modern, isu tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) adalah bagian amat penting yang tidak boleh diabaikan. Hampir di seluruh laporan tahunan (annual report) perusahaan-perusahaan besar, program CSR selalu terpampang rapi dan mengesankan.”

Sulitkah mengganti CSR dengan TJSP, MDGs dengan SPM, dan seterusnya? Tak usah berharap ekonom dan fisikawan kita dianugerahi Nobel. Dengan menggarap nasionalisasi istilah untuk bidang masing-masing, ilmuwan kita sebetulnya menimbun harta tak ternilai dalam usaha mengungkapkan gagasan dan konsep pengetahuan ke dalam bahasa persatuan ini.

Untuk lengkapnya dapat diklik di sini

Lihatlah, apa yang dilakukan kaum intelektual. Tidak hanya mereka yang dari pendidikan rendah yang mengacaukan tatanan Bahasa Indonesia. Mereka yang telah sekolah tinggi-tinggi pun memperkosa bahasa persatuan republik ini.  Malukah menggunakan istilah-istilah Indonesia? Takut terlihat tidak intelek? Merasa kurang bergengsi?

Hah, penduduk negeri ini memang sudah gila! Dan sepertinya aku pun telah ikut gila bersamanya! Hahahahahaha! Selamat, anda telah membaca tulisan gila orang gila di negeri yang gila.

2 thoughts on “Entah Harus Kusebut Apa Negeriku

  1. Aku tak memintamu memuja Bahasa Indonesia
    Aku hanya ingin kau mencintai Bahasa Indonesia, kawan
    Banggalah menggunakan Bahasa Indonesia
    Kalau bukan kau, siapa lagi yang akan mencintai negeri ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s