Bunda, Cintamu Tiada Tara

“Makku klo ada mawnya aja rajin banget telp n sms aq”
“Kenapa bukan anaknya yg lain yg di telpon?”

Kawan, apa yang kau pikirkan saat membacanya?
Salahkah jika bunda meminta sesuatu darimu?
Ia hanya meminta sedikit penghasilanmu
Dan itu pun pasti karena sesuatu yang penting
Lalu apa katamu?

Kawan, pernahkah terlintas untuk membalas semua kebaikan bunda?
Sembilan bulan mengandungmu..
Dengan perut buncit ia tak pernah meninggalkanmu
Pernah kau lihat bunda yg meninggalkan perutnya di rumah?
Tak ada.. Tak bisa.. Tak rela..
Karena ia begitu mencintaimu
Lalu akan kau balas apa semua itu?
Dengan rumah yang bak istana?
Bisakah?
Cukupkah?

Kawan, darah yang mengalir dalam tubuhmu itu
Dari siapakah kau dapatkan itu?
Setiap tetes ASI yang kau minum
Siapa yang memberikannya padamu?
Akan bagaimana kau membalas semua itu?
Jawab kalau kau bisa!
Aku ingin mendengarnya

Kawan, apa kau ingat dikala kau sakit
Seseorang yang tak henti menjagamu
Merawatmu tanpa merasa lelah
Siapakah ia?
Seseorang yang rela berpuasa
Agar perutmu terisi penuh oleh makanan
Siapakah ia?

Kawan, apakah kau mengetahuinya
Tiap malam ia terjaga dari tidurnya
Berkhalwat dengan Yang Mahakuasa
Nama siapakah yang ia sebut?
Permohonan untuk siapakah yang ia pinta?
Tak perlu kuberi tahu jawabannya bukan

Kawan, jika harus kuhabiskan seribu malam menuliskan kebaikan bunda
Niscaya itu takkan cukup
Dan jika kau ingin mengukur seberapa besar cinta bunda
Maka tak ada alat ukur yang bisa menyamainya

“Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”

Kawan, Saat bunda meminta sesuatu padamu
Bukan pada yang lain
Bukankah itu suatu kebanggaan?
Kaulah yang dipilih sebagai tempatnya bersandar
Kaulah yang bisa memberinya rasa aman
Kaulah yang bisa ia percaya
Kau buah hatinya yang kini menjadi pelita hatinya
Bukankah itu suatu kehormatan?

Ini ku tulis bukan untukmu kawan
Bukan untuk menyindirmu
Juga bukan untuk mereka
Ini ku tulis untuk diriku
Sepuluh tahun lagi
Atau dua puluh tahun lagi

Bunda, jika aku mengeluh akan permintaan kecilmu
Tamparlah aku
Bunda, jika aku lupa menengokmu
Rengkuhlah aku
Bunda, jika aku lalai berbakti padamu
Ingatkanlah aku

Bunda, aku mencintaimu (–>Semoga tak hanya sekedar kata-kata)

6 thoughts on “Bunda, Cintamu Tiada Tara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s