Kisah Sebungkus Permen

Hari Kamis yang terik, pada tengah hari di sebuah ruang kelas yang dipenuhi oleh mahasiswa yang siap menerima ilmu baru dari mata kuliah perilaku konsumen. Seorang dosen masuk ke kelas, dan kelas pun dimulai dengan suatu perintah sederhana. “Saya akan membagi-bagikan permen kepada Anda, silakan Anda makan menggunakan tangan kiri. Anda boleh merespon seperti apapun”, kata dosen perilaku konsumen, Retnaningsih.

Permen pun mulai dibagi-bagikan di kelas. Bangku depan yang telah mendapatkan permen terlebih dahulu sudah ada yang makan. Mahasiswa yang duduk di belakang masih menanti-nanti permen yang dibagikan. Setelah semua mendapatkan permen, dosen yang mengenakan pakaian berwarna ungu itupun berkata, “Sudah dapat permen semua? Silakan Anda makan.”

“Sudah ada yang makan duluan, Bu,” batinku.

Setelah beberapa menit mahasiswa diberikan waktu untuk menentukan sikap, maka Ibu Retnaningsih pun bertanya, “Siapa yang memakan permennya angkat tangan.” Dan mahasiswa yang memakan permen mengangkat tangan. Kemudian pertanyaan kedua pun dilontarkan, “Siapa yang tidak memakan permennya angkat tangan.” Maka gantian mahasiswa yang tidak makan permenlah yang angkat tangan. “50:50 ya… Sekarang saya minta satu orang yang memilih untuk memakan permennya maju ke depan.” Dipilihlah secara acak satu orang mahasiswa. “Kenapa anda memutuskan untuk memakan permen tersebut?”

“Soalnya saya lapar, Bu. Jadi saya makan permennya.”

Kemudian dipilihlah secara acak mahasiswa yang tidak makan permen dan diberikan pertanyaan, “Kenapa Anda memutuskan untuk tidak memakan permen?”

“Saya sedang tidak makan, Bu,” jawab mahasiswi.

“Terima kasih. Silakan kembali ke tempat duduknya.” Dan Bu Retnaningsih kembali bertanya,” Siapa yang tidak memakan permennya padahal dia tidak sedang berpuasa?”

Hanya satu orang yang angkat tangan secara ragu-ragu, yang lainnya nggak mau ngaku.

“Kenapa Anda memutuskan untuk tidak memakan permen?”

“Karena dalam agama saya diharamkan makan menggunakan tangan kiri,” jawab mahasiswi.

“Apakah Anda tahu bahwa dalam ajaran agama Islam makan menggunakan tangan kiri diharamkan?” pertanyaan ini ditujukan untuk seluruh mahasiswa yang duduk di kelas. Mayoritas mahasiswa beragama Islam.

“Tahu…”, jawaban koor mahasiswa.

“Lalu kenapa Anda masih memakannya?”

Hening.

“Perintah agama adalah perintah Tuhan. Kenapa Anda lebih mendengarkan perintah saya dibandingkan perintah Tuhan? Jelas-jelas kedudukan Tuhan lebih tinggi dari saya.” Diam sejenak.”Permen ini gratis. Lalu bagaimana jika anda dibayar untuk memakan permen ini?” Jeda. Mahasiswa diberikan waktu untuk merenung.

“Inilah contoh nyata dari perilaku konsumen. Walaupun memiliki pengetahuan, belum tentu bersikap sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Inilah mengapa pengetahuan yang sama dapat memberikan respon yang berbeda-beda.”

“Sebelum makan, apakah ada yang mengecek tanggal kedaluarsanya?”

Kelas pun gaduh. Terlihat reaksi panik dan segera memeriksa bungkus permen.

Nggak ada, Bu”, jawab seorang mahasiswa.

“Iya. Saya tahu memang tidak ada. Permen tanggal kedaluarsanya tercantum di bungkus besarnya. Tapi apakah ada yang mengecek tanggal kedaluarsa? Komposisi? Label halal? BPOM?”

Kelas kembali hening.

“Padahal Anda telah belajar perilaku konsumen, tapi Anda belum bersikap sebagai konsumen yang baik. Bagaimana kalau saya adalah orang jahat yang berniat meracuni Anda?”

“KNOWLEDGE IS NOTHING, APPLYING WHAT YOU KNOW IS EVERYTHING”

Inilah sepenggal kisah tentang sebungkus permen. Semoga dapat dipetik pelajaran berharga darinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s